Renungan diri

Suara Tanpa Kata

Diam-diam dia mengamati hembusan angin malam. Semilir terasa dingin menembus dinding-dinding bambu yang terlihat samar. Hembusan angin seakan mengoyak keheningan malam yang semu. Membangunkan mimpi-mimpi yang tenggelam membisu. Begitu sunyi semesta terasa senyap. Hanya kawanan hewan malam yang ramai tak pedulikan malam gelap. Seakan mereka bahagia dengan kesunyian yang hadir. Tetap menjalani takdirnya tanpa banyak… Lanjutkan membaca Suara Tanpa Kata

Renungan diri

Dia Masih Hidup

Berjalan. Tertatih perlahan. Gadis itu melangkah memasuki kamarnya. Kamar bambu yang tak begitu luas. Namun penuh dengan kenangan yang masih membekas. Seakan setiap sudutnya mempunyai kisah tersendiri yang masih terasa. Impiannya yang pernah hancur. Keinginannya yang ada lantas melebur. Barang berharga yang pernah ada. Namun sirna dalam sekejap mata. Diam dan termenung. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya… Lanjutkan membaca Dia Masih Hidup

Catatan Penaku Laylie

Menunggu Pagi

Menjelang pagi. Gadis itu belum bisa memejamkan mata. Untuk istirahat rebahkan raga. Untuk istirahat tenangkan pikiran dan jiwa. Matanya masih terbuka. Melihat sekelilingnya. Melihat dinding dari bambu yang tersusun rapi di sampingnya. Diam lisannya. Namun batinnya tetap bersuara dan merasa. Bahwa ada ruang sunyi di kedalaman sana yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hatinya berbisik,… Lanjutkan membaca Menunggu Pagi

Renungan diri

Sudah Waktunya Pergi

Ada saatnya untuk pergi. Tidak harus dengan amarah. Cukup lanjutkan langkah dan pasrah. Mengalah bukan berarti kalah. Sebab yang tak sejalan pada akhirnya harus berpisah. Yang memutuskan pergi bukan berarti yang buruk. Yang mengalah bukan berarti dia lemah. Ada saatnya menenangkan diri. Membiarkan waktu berlalu. Yang benar akan tampak. Yang salah juga akan tampak. Sudahi,… Lanjutkan membaca Sudah Waktunya Pergi

Renungan diri

Mencari Jalan Lainnya

Sunyi, tapi diri harus tetap berjalan. Resah, berat langkah tapi harus tetap mencari arah. Saat keadaan menjelma seperti gelap malam. Semua terasa semakin sunyi dalam relung hati yang terdalam. Diam lisan. Semakin diam tak bersuara. Ingin berucap banyak tapi sadar diri tak semua manusia bisa menerima. Haruskah segera beranjak pergi? Dari tempat sunyi ini? Haruskah… Lanjutkan membaca Mencari Jalan Lainnya

Renungan diri

Caraku Berdamai

Langit menghitam. Kutemukan kesunyian malam. Aku beranjak dari tempatku. Aku pergi dan menari. Menghampiri kesunyian yang turun dari langit malam ini. Aku pergi dan menari. Kuabaikan kesedihan yang kurasa. Kuabaikan luka yang membara. Aku pergi dan menari. Kuabaikan caci maki. Kuabaikan hinaan yang melintasi sunyi. Aku pergi dan menari. Tersenyum lepas. Layaknya tawanan yang sudah… Lanjutkan membaca Caraku Berdamai

Renungan diri

Ada Saatnya

Ada saatnya memacu raga yang lelah untuk tetap berjalan. Untuk tetap bertahan menyesuaikan perubahan warna keadaan. Ada saatnya memacu kesedihan. Untuk tidak berhenti dan menangis di tengah jalan. Semua memang tidak menyenangkan jika dibayangkan. Juga tidak mudah dijalani seperti yang dituliskan. Ini tentang sebuah perjalanan. Suka atau tidak suka. Dirimu harus mampu menyesuaikan dengan keadaan.… Lanjutkan membaca Ada Saatnya